Jumat, 13 Oktober 2017

AUDIT TEKNOLOGI INFORMASI 2


A.    Metodologi Audit Teknologi Informasi

Dalam praktiknya, tahapan-tahapan dalam audit IT tidak berbeda dengan audit pada umumnya, sebagai berikut :

1.     Tahapan Perencanaan.

Sebagai suatu pendahuluan mutlak perlu dilakukan agar auditor mengenal benar obyek yang akan diperiksa sehingga menghasilkan suatu program audit yang didesain sedemikian rupa agar pelaksanaannya akan berjalan efektif dan efisien.

2.     Mengidentifikasikan reiko dan kendali.

Untuk memastikan bahwa qualified resource sudah dimiliki, dalam hal ini aspek SDM yang berpengalaman dan juga referensi praktik-praktik terbaik.

3.     Mengevaluasi kendali dan mengumpulkan bukti-bukti.

Melalui berbagai teknik termasuk survei, interview, observasi dan review dokumentasi.

4.     Mendokumentasikan.

Mengumpulkan temuan-temuan dan mengidentifikasikan dengan auditee.

5.     Menyusun laporan.

Mencakup tujuan pemeriksaan, sifat, dan kedalaman pemeriksaan yang dilakukan.

B.     Alasan Dilakukan Audit Teknologi Informasi

Weber, 2000 menyatakan beberapa alasan penting mengapa Audit SI/TI perlu dilakukan, antara lain:

1.     Kerugian akibat kehilangan data.

Data telah menjadi salah satu aset terpenting bagi perusahaan. Peran TI dalam mengamankan data tersebut menjadi aspek yang patut diperhatikan.
Hal tersebut mengingat kehilangan data mungkin akan berakibat terhadap terhentinya aktivitas bisnis yang penting di perusahaan. Kemungkinan lain adalah’ aktivitas dapat berjalan namun membutuhkan waktu yang lama karena dilakukan secara manual. 
2.     Kesalahan dalam pengambilan keputusan.

Banyak perusahaan yang saat ini telah menggunakan bantuan Decision Support System (DSS) dalam membantu pengambilan keputusan-keputusan penting. Dalam bidang kedokteran misalnya, keputusan dokter untuk melakukan tindakan operasi dapat saja ditentukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak yang menggunakan prinsip DSS. Tentu dapat dibayangkan risiko yang mungkin dapat ditimbulkan apabila sang dokter salah memasukkan data pasien ke sistem TI yang digunakan karena melibatkan bukan hanya material, melainkan hal penting lain, yakni nyawa seseorang.

3.     Resiko kebocoran data.

Data bagi sebagian besar perusahaan merupakan sumber daya yang tak ternilai. Informasi mengenai pelanggan misalnya, bisa menjadi daya saing perusahaan. Melalui proses audit, dapat diketahui kemungkinan kebocoran data pelanggan perusahaan. Kebocoran tersebut tidak hanya berdampak terhadap kehilangan sejumlah pelanggan, akan tetapi lebih jauh lagi dapat mengganggu kelangsungan aktivitas bisnis perusahaan secara keseluruhan.

4.     Penyalahgunaan komputer.

Kejahatan komputer kian meningkat seiring dengan pesatnya pertumbungan teknologi informasi dan komunikasi. Kejahatan tersebut bisa dilakukan oleh pihak luar (hacker, cracker) karena ingin mengambil keuntungan sebanyak¬banyaknya atau kebanggaan pribadi, maupun oleh karyawan perusahaan sendiri karena merasa tidak puas dengan kebijakan perusahaan.
Keberadaan audit khususnya di bidang manaJemen keamanan informasi menjadi penting untuk mengetahui kemungkinan penyalahgunaan aktivitas terkait dengan TI yang kritis di perusahaan. Pembahasan lebih lanjut mengenai hal tersebut dapat dilihat dalam buku: Sistem Manqjemen Keamanan Informasi (SMKl) berbasis ISO 27001 (Sarno & Iffano, 2009).
5.     Kerugian akibat kesalahan proses perhitungan.

Salah satu alasan penggunaan TI adalah kemampuannya dalam mengolah data secara tepat dan akurat namun bukan tanpa resiko kesalahan. Resiko tersebut akan menjadi semakin besar tanpa didukung dengan keberadaan mekanisme pengembangan yang memadai yang evaluasi implementasinya dapat dievaluasi melalui Audit SI/TI.

6.     Tingginya nilai investasi perangkat keras dan perangkat lunak komputer.

Investasi yang dikeluarkan untuk proyek TI sering kali besar namun pengukuran manfaat yang diberikan TI terhadap bisnis sering kali sulit diukur karena melibatkan banyak faktor dan kepentingan. Keberadaan Audit SI/TI membantu pihak manajemen dalam memastikan penggunaan TI sesuai dengan standar pengelolaan yang baik, kebijakan, hukun dan regulasi yang berlaku sehingga dapat diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Bisnis.

C.     Manfaat Audit Teknologi Informasi

1.     Manfaat pada saat Implementasi (Pre-Implementation Review)

– Institusi dapat mengetahui apakah sistem yang telah dibuat sesuai dengan kebutuhan ataupun memenuhi acceptance criteria.
– Mengetahui apakah pemakai telah siap menggunakan sistem tersebut.
– Mengetahui apakah outcome sesuai dengan harapan manajemen.

2.     Manfaat setelah sistem live (Post-Implementation Review)

– Institusi mendapat masukan atas risiko-risiko yang masih yang masih ada dan saran untuk penanganannya.
– Masukan-masukan tersebut dimasukkan dalam agenda penyempurnaan sistem, perencanaan strategis, dan anggaran pada periode berikutnya.
– Bahan untuk perencanaan strategis dan rencana anggaran di masa mendatang.
– Memberikan reasonable assurance bahwa sistem informasi telah sesuai dengan kebijakan atau prosedur yang telah ditetapkan.
– Membantu memastikan bahwa jejak pemeriksaan (audit trail) telah diaktifkan dan dapat digunakan oleh manajemen, auditor maupun pihak lain yang berwewenang melakukan pemeriksaan.
– Membantu dalam penilaian apakah initial proposed values telah terealisasi dan saran tindak lanjutnya.


SUMBER :



GAMBAR :



Selasa, 26 September 2017

AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI





1.      Pengertian Audit Teknologi Sistem Informasi
  • Audit teknologi informasi atau IT (information technology) audit atau juga dikenal sebagai audit sistem informasi (information system audit) merupakan aktivitas pengujian terhadap pengendalian dari kelompok-kelompok unit infrastruktur dari sebuah sistem/teknologi informasi.
  • Audit teknologi informasi ( Inggris : information technology (IT) audit atau information systems (IS) audit) adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari infrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh. 
  • Audit Sistem Informasi memberikan evaluasi yang bersifat independen atas kebijakan, prosedur, standar, pengukuran dan praktik untuk menjaga atau mencegah informasi yang bersifat elektronik dari kehilangan, kerusakan, penelusuran yang tidak disengaja dan sebagainya (NSAA & GAO, 2011). Audit SI secara unum mencakup hal-hal sebagai berikut: meninjau lingkungan dan fisik, administrasi sistem, software aplikasi, keamanan jaringan, komunitas bisnis dan komunikasi data (Gondodioto & Hendarti, 2006).
  • Audit Sistem Informasi sebagai proses pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti untuk menentukan apakah sistem informasi dapat melindungi asset, teknologi yang ada telah memelihara integrasi data hingga keduanya dapat diarahkan kepada pencapaian tujuan bisnis secara evektif dengan menggunakan sumber daya secara efisien (Sayana, 2002).

    2.      Tujuan Audit Sistem Informasi

Tujuan audit sistem informasi untuk meninjau dan memberikan umpan balik, menjamin dan melakukan rekomendasi mengenai tiga hal sebagai berikut, ketersediaan (availability), kerahasiaan (confidentiality) dan integritas. Detail tentang tujuan audit sistem informasi di jelaskan (Gondodioto & Hendarti, 2006) sebagai berikut:
  • Untuk mengidentifikasi sistem yang ada baik yang ada pada tiap divisi/unit/departemen maupun yang digunakan menyeluruh.
  •  Untuk mengetahui pada bidang atau area mana, fungsi, kegiatan atau business process yang didukung dengan sistem serta teknologi sistem informasi yang ada.
  •  Untuk menganalisis tingkat pentingnya data/informasi yang dihasilkan oleh sistem dalam rangka mendukung kebutuhan para pemakainya.
  •  Untuk mengetahui keterkaitan antara sistem pengolahan dan transfer informasi.
  •  Untuk mengidentifikasi apakah ada kesenjangan antara sistem dan kebutuhan.

    3.      Sejarah Audit Teknologi Informasi

     Audit IT yang pada awalnya lebih dikenal sebagai EDP Audit (Electronic Data Processing) telah mengalami perkembangan yang pesat. Perkembangan Audit IT ini didorong oleh kemajuan teknologi dalam sistem keuangan, meningkatnya kebutuhan akan kontrol IT, dan pengaruh dari komputer itu sendiri untuk menyelesaikan tugas-tugas penting. Pemanfaatan teknologi komputer ke dalam sistem keuangan telah mengubah cara kerja sistem keuangan, yaitu dalam penyimpanan data, pengambilan kembali data, dan pengendalian. Sistem keuangan pertama yang menggunakan teknologi komputer muncul pertama kali tahun 1954. Selama periode 1954 sampai dengan 1960-an profesi audit masih menggunakan komputer. Pada pertengahan 1960-an terjadi perubahan pada mesin komputer, dari mainframe menjadi komputer yang lebih kecil dan murah. 
    Pada tahun 1968, American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) ikut mendukung pengembangan EDP auditing. Sekitar periode ini pula para auditor bersama-sama mendirikan Electronic Data Processing Auditors Association (EDPAA). Tujuan lembaga ini adalah untuk membuat suatu tuntunan, prosedur, dan standar bagi audit EDP. Pada tahun 1977, edisi pertama Control Objectives diluncurkan. Publikasi ini kemudian dikenal sebagai Control Objectives for Information and Related Technology (CobiT). Tahun 1994, EDPAA mengubah namanya menjadi Information System Audit (ISACA). Selama periode akhir 1960-an sampai saat ini teknologi TI telah berubah dengan cepat dari mikrokomputer dan jaringan ke internet. Pada akhirnya perubahan-perubahan tersebut ikut pula menentukan perubahan pada audit IT.

   4.      Jenis Audit Teknologi Informasi
  •  Sistem dan aplikasi.
           Memeriksa apakah sistem dan aplikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi, berdayaguna, dan memiliki kontrol yang cukup baik untuk menjamin keabsahan, kehandalan, tepat waktu, dan keamanan pada input, proses, output pada semua tingkat kegiatan sistem. 
  •  Fasilitas pemrosesan informasi.
           Memeriksa apakah fasilitas pemrosesan terkendali untuk menjamin ketepatan waktu, ketelitian, dan pemrosesan aplikasi yang efisien dalam keadaan normal dan buruk.
  •  Pengembangan sistem.
           Memeriksa apakah sistem yang dikembangkan mencakup kebutuhan obyektif organisasi.
  • Arsitektur perusahaan dan manajemen TI 
         Memeriksa apakah manajemen TI dapat mengembangkan struktur organisasi dan prosedur yang menjamin kontrol dan lingkungan yang berdaya guna untuk pemrosesan informasi. 
  • Client/Server, telekomunikasi, intranet, dan ekstranet         
     Memeriksa apakah kontrol-kontrol berfungsi pada client, server, dan jaringan yang menghubungkan client dan server.

   5.      Kesimpulan

             Audit Teknologi Informasi merupakan kegiatan pengumpulan danpengevaluasian fakta pada suatu kegiatan perusahaan untuk menentukan sistem yang sedang berjalan pada suatu perusahaan dapat bekerja dengan baik. Audit TI diperlukan suatu perusahaan agar integrasi data pada kegiatan perkantoran tetap selalu terjaga, memperkecil resiko kerugian yang disebabkan oleh kejahatan komputer dan juga untuk lebih memahami seberapa besar sistem informasi mendukung kebutuhan strategis perusahaan, operasi perusahaan, mendukung kegiatan operasional departemen/unit/divisi, kelompok kerja maupun para petugas dalam melaksanakan kegiatannya.



Sumber :
https://avanza250.wordpress.com/2013/06/22/pemeriksaan-sistem-informasi-audit-it/

Gambar :
https://blog.gamatechno.com/wp-content/uploads/2017/01/auditor1.jpg